Rabu, 09 Oktober 2019

Sebuah Rasa Untuk Pergi



Akhir akhir ini gue ngerasa “Gue harus pergi, gue harus move on, gue harus lupain semua rasa yang selama ini tumbuh hingga tak memiliki tempat di sisi manapun pada dirinya”. Ya, gue memang sangat sulit untuk melupakan seseorang yang menurut gue adalah orang terbaik untuk diri gue sendiri. Walaupun banyak orang yang berkata “Yasudahlah, ngapain difikirkan kembali? Toh dia juga gak bakal balik lagi”. Ingin sekali rasanya meluapkan kekesalan gue terhadap ucapan orang-orang kebanyakan.

Jadi, apa yang harus gue lakukan sekarang ini? Entahlah, gue juga tidak mengerti. Di satu sisi gue gak bias secara terus menerus mempertahankan perasaan yan gue bangun secara kontinyu dan semua yang gue pertahanin itu sudah percuma. Di sisi lain gue masih sangat mengharapkan orang tersebut untuk kembali dan berada di sisi gue. Entah apa cara yang akan saya lakukan untuk membuatnya kembali, entah bagaimana jalannya gue juga masih tidak memahaminya. 

Apakah ada seseorang yang dating ketika dia pergi? Jawabannya ada. Lalu mengapa enggan untuk pergi? Jawabannya cinta. Entah apa yang membuat gue bodoh seperti ini. Mungkin yang gue tau, ketika gue berada di samping orang tersebut, gue merasa sesuatu hal yang tidak pernah gue rasain sama orang lain. Pernah gak, ngobrol dengan mama, papa kalian berjam-jam? Seperti itu rasanya. Nyaman dan tidak ada perasaan takut sedikitpun. Gue gak menemukan magic tersebut di orang lain. Tapi waktu berjalan dan mungkin sudah saatnya aku untuk pergi. Bukan pergi dari dunia ini, jangan salah sangka.

Gue harus bisa memantapkan diri gue sendiri untuk pergi dan ikhlas atas semua yang terjadi. Percuma juga jika gue masih tetap untuk bertahan sedangkan, dia sama sekali tidak menginginkan keberadaan gue lagi. Tapi bagaimana caranya? Bagaimana caranya untuk memiliki rasa untuk meninggalkan seseorang yang ketika gue Bersama dia, seakan gue sedang Bersama orang tua gue? Terkadang gue suka bertanya tanya, “Mengapa Tuhan mempertemukan gue dengan seseorang yang pada akhirnya meninggalkan gue karena hal hal yang menjadi sebuah kekurangan yang ada pada diri gue?”. “Mengapa Tuhan memberikan sebuah rasa nyaman ini dan pada akhirnya harus terpisah begitu saja?”. Mungkin sebuah rasa untuk pergi sering kali terbesit dalam hati gue.

Namun, masa sih hanya sampai situ saja? Tidak ada hasratkah untuk memperjuangkan semua? Ya, sebetulnya ingin sekali untuk memperjuangkannya. Akan tetapi bagaimana caranya? Gue sudah gak ngerti lagi harus berbuat apa. Mari kita lihat dalam jangka waktu satu atau dua minggu lagi, apakah gue berhasil untuk pergi dari hidupnya? Atau aka nada hal lain yang akan terjadi? Yep, sebetulnya gue gak berharap apapun lagi di dunia ini. Doa gue Cuma satu,“Tuhan, Ya Allah, tolong buat gue menjadi orang yang kuat dan gue minta tolong untuk berikan seseorang yang tepat dalam hidup gue, siapapun dia”.

“Tuhan mempertemukan kita dengan seseorang karena sebuah alasan, antara pelajaran hidup atau membaw kebahagiaan” - adul  


Tidak ada komentar:

Posting Komentar