Senin, 01 Oktober 2018

Ray dan Gitar Sederhana

sumber :www.pexels.com

ku lihat jalan luas dan bercabang
Namun ku tak tahu mana yang benar
Dan ku pejamkan mata  lalu melangkah
Tapi ku salah jalan
ku kembali tepat di awal ku berpijak
kucoba berfikir dan ku renungkan
kupejamkan mata lalu melangkah
tapi ku salah lagi

ketika terik matahari menyambar lapisan atas bis di mana aku berdiri dihadapan penumpang jurusan Depok – Sukabumi, aku berteriak sekeras mungkin melawan bisingnya suara klakson pengendara lain yang tidak sabar ingin keluar dari jejeran mobil yang mengantri untuk terbebas dari kemacetan. Dengan petikan sederhana dari gitar yang kupegang, lagu ciptaanku terasa sangat ringan saat didengarkan sehingga beberapa penumpang mengayunkan kepalannya mengikuti petikan-petikan gitar dan alunan nada yang keluar dari mulutku.

Paras wajahku yang tidak menarik karena mulai habis dimakan debu jalanan dan matahari. Namaku adalah Ray, usiaku kini hampir 17 tahun. Aku sangat suka membaca. selama ini aku selalu menyempatkan diri untuk pergi membeli buku bekas, karena harganya murah. Bukan karena aku seorang pecandu narkoba, lantas hidupku seberantakan pecandu-pecandu lainnya. Oh iya, dengan kemampuanku bernyanyi aku bisa berdiri sampai saat ini. Meskipun dalam darahku ini teraliri benda terlarang dan dipenuhi rasa cemas dan takut, aku tetap menjalani hidupku.

“Pak makasih ya.” Ucapku kepada kenek bis dan aku melompat dari bis yang sedang melambat.

“Lumayan dapet banyak nih hari ini. Bisa buat makan sampe besok sama bisa buat beli itu juga. Pusing juga kalo udah lama ga make.” Gumamku.

            Lalu aku berjalan di bawah panasnya sinar matahari dan aku memutuskan berhenti di warung makan langgananku. Sama seperti biasanya, aku memilih telur dadar dan tempe orek sebagai lauknya. Ditengah-tengah keasyikanku menyantap makananku, aku terdiam mengingat betapa bahagianya aku kala itu. Kemudian semua hancur begitu saja hingga pada akhirnya inilah aku yang sekarang.

Kisah ini berawal dari hancurnya usaha ayakhu. Sebelumnya aku adalah anak yang aktif dan bersahabat. Meskipun tidak pernah menempati nomor 1 dalam peringkat kelas, aku termasuk anak yang mudah menangkap hal-hal baru. Hingga pada suatu hari,

“Bu, aku kena tipu sama teman.” ucap Ayah.

“Loh ? kena tipu gimana ?” tanya Ibuku.

“Bangkrut bu, kita jatuh miskin sekarang.”

Setelah mendengar usaha Ayah berantakan dan terlilit hutang dengan jumlah yang sangat besar Ibu terkena serangan jantung dan meninggal sebelum Ayah membawanya ke rumah sakit. Selesai pemakaman Ibu, kami mengemaskan barang-barang dan pindah ke rumah kecil peninggalan Nenek di Depok. Ayah terlihat murung dan jarang sekali tersenyum.

Berselang 2 bulan kepergian Ibu, Ayahku depresi dan pada akhirnya gila. Pada awalnya Ayahku sering melamun dan berbicara sendirian. Semakin hari semakin parah hingga melempari orang-orang yang melewati depan rumah dengan benda apapun yang ada di depan matanya. Selama berbulan-bulan dia bertingkah seperti itu. Hidupku mulai bergantung dari belas kasihan tetanggaku. Secara bergantian mereka mengirimiku makanan dan uang untuk kebutuhanku sekolah.

            Hari ini aku mulai berangkat ke sekolah setelah hampir satu minggu tidak masuk. Rasa tidak sabar Aku bersiap-siap mengenakan seragam putih biru, mengikat tali sepatu, dan merapikan buku-buku kedalam tasku, dengan tatapan polos aku berbicara kepada ayah,

“Yah, kenapa bisa seperti ini? Apa salah Ayah sampai-sampai kaki Ayah dijepit dengan dua batang kayu besar dan lihat tangan Ayah, kenapa bisa sampai digelangi dengan rantai yang besar? Apa Ayah tidak bosan dengan berdiam diri saja di sini?” Namun yang ku dapat hanyalah tatapan kosong tanpa arti.

            Sejenak aku terdiam menatap ke arah Ayah. Kutahan tetesan air mata didepan ayahku.

“Yah aku mau berangkat sekolah, uang jajan aku gimana yah? Gimana ayah kasih uangnya kalau ayah seperti itu?” Lanjutku.

            Tetesan air mata yang kutahan di depan Ayahku tadi, kini mengalir deras seiringan dengan langkah kakiku menuju sekolah. Anehnya, mereka yang berpapasan denganku hampir semua menatapku najis. Yang lebih parahnya, sahabatku yang biasanya berangkat bersama hari ini aku tidak melihatnya.

“Di, ko kamu gak bareng si berangkatnya?” Tanyaku.

“hah? maaf ya aku gak mau temenan sama kamu lagi.” Balasnya dengan ekspresi jijik melihatku.

            Aku mulai terpojokkan di kelas. Tidak ada yang ingin mendekatiku bahkan menyapakupun, tidak. Ketika melihat tulisan-tulisan di papan tulis aku merasa sangat kebingungan. Aku sudah benar-benar tertinggal pelajaran. Bahkan aku tidak mengerti apa tulisan dan angka-angka yang tertulis di buku-buku paket usang ini. Semangat belajarku luntur karena terasingkan di kelas. Sedangkan dua minggu lagi akan diadakan ujian kenaikan kelas dan yang aku fikirkan saat ini hanya keadaan ayah dan menangisinya.

“Tok tok tok.” Terdengar suara ketukan pintu dari depan rumah.

            Saat kuberjalan ke arah depan dan hendak membukakan pintu seketika langkahku terhenti dan berfikir,

“Ah paling teman-temanku iseng, mereka kan memang selalu mengetuk pintu lalu ketika pintunya dibuka, mereka tidak ada.” Ucapku dalam hati dan kembali melanjutkan fokusku ke buku yang sedari tadi aku coba untuk memahaminya.

“Halo ada orang kah di dalam? Ray kamu di dalam?” Terdengar lagi orang berteriak di depan yang dibarengi dengan suara ketukan pintu yang mulai mengeras.

            Dengan tergesa dan buru-buru aku berlari dan membukakan pintu karena mendengar orang menyebut namaku saat mengetuk pintu untuk kedua kalinya.

“Sebentar.” Pintaku selagi memutar kunci pintu searah jarum jam.

            Saat pintu terbuka, aku terheran melihat orang yang sedang berdiri tegap di hadapanku. Kuperhatikan perlahan dari atas hingga ke bawah, dari rambut hingga ujung kakinya. Kuingat-ingat siapa orang ini, tapi aku sama sekali tidak mengenalnya. Mungkin dia ada hubungannya dengan ayah atau ibu.

“Hey ngapain bengong, awas kesambet. Haha..” Teriaknya yang mengacaukan lamunanku

“Eh, aku lagi mikir kak.” Balasku kaget.

“Mikirin apa si emangnya?” Tanyanya santai.

“Kakak ini siapa ya? Saudara Ayah bukan, saudara Ibu aku juga bukan deh kayaknya.”

”Mau difikirin kaya gimana juga kamu gak bakal tau kakak siapa. Orang kakak aja baru dateng kesini hari ini aja Haha..” Tawanya.

 “Jadi, kakak ini siapa dong kalau gitu ?” Tanyaku penasaran.

            Setelah bercerita panjang lebar, ternyata kakak itu bernama Bily, dia adalah seorang wirausaha sukses di daerah Depok dan maksud kedatangannya kerumah karena prihatin mendengar kabar dari orang mengenai apa yang terjadi selama ini padaku. Dia berkata ingin memantau keseharianku agar tidak melangkah ke jalan yang tidak seharusnya.

“Yaudah, nanti kalau ada apa-apa hubungi kakak ya, kakak ada urusan lagi nih.” Seraya memberikan amplop yang agak tebal dan tertulis alamat rumah dan dia beranjak pergi.

            Setelah kak Bily pergi, aku kembali ke kamar dan tidak lupa mengunci pintu. Ku terawang dan mengira-ngira apaa isi dari amplop yang dikasih  kak Bily.

“Isinya apa ya kira-kira? Ada bulet-buletannya juga,” Ocehku dengan penuh teka-teki.

Ada perasaan ingin membukanya tetapi aku tidak memiliki keberanian untuk menyobeknya. Pada akhirnya amplop itu kuletakkan di atas lemari dan aku mengambil buku-buku pelajaran untuk persiapan ujian.

            Tanpa kusadari, aku tertidur dengan posisi kepalaku berada di atas buku. Lalu ketika terbangun aku merasakan sakit di kepala bagian belakang. Kuperhatikan seisi kamar dan anehnya keadaan kamarku sangat tidak beraturan. Cermin pecah, buku-buku bertebaran dimana-mana, pakaian berceceran.

“Kok bisa kamarku tiba-tiba berantakan gini ya? Jangan jangan...” Aku berlari dengan kencang mengarah ke kamar Ayah.

Sesampainya di depan pintu kamar, dengan nafas yang tergesa-gesa aku memandangi ayahku sedang terduduk lemas dengan tangan dan kaki yang masih tidak dapat digerakkan dengan bebas.

“Lalu siapa pelakunya kalau bukan ayah? Pintu rumah sudah ku kunci dan setelah ku periksa pintu depan masih dalam keadaan terkunci.” Aku bertanya-tanya kebingungan.

            Dalam keadaan bingung aku kembali ke kamarku dan membereskan semuanya. Saat aku membenahi pakaian-pakaianku, aku melihat amplop terjatuh di bawah lemari dalam keadaan terbuka. Kuambil dan kuperiksa amplop itu dan terdapat lembaran uang seratus ribu yang cukup tebal beserta tiga bungkus permen didalamnya.

“Uangnya banyak banget. Gak salah kakak kemarin kasih aku uang sebanyak ini ?”

“lalu permen ini? Mengapa kak Bily gak langsung kasih ke aku aja permennya, segala dibungkus-bungkus gini.” Tanyaku heran.

            Kumasukan uang dan permen tadi ke dalam amplop dan meletakkannya di meja belajar. Kubersihkan serpihan kaca hingga ke kolong-kolong. Kusapu dan kubuang ke tong sampah depan rumah. Saat aku ingin kembali ke dalam rumah,

“Tunggu-tunggu, kayaknya ini mirip bungkus permen yang di amplop tadi deh.” Sambil memegang bungkus permen berwarna silver.

Dengan tergesa-gesa aku kembali ke kamar dan mencocokkan bungkus yang kupegang dengan permen yang kutemukan tadi. Ternyata benar, bungkus yang sama. Kebingungan melanda dan menghantui isi kepalaku. Perlahan ku buka sisa permen tersebut, ku perhatikan bentuknya tapi tidak ada yang aneh. Hanya seperti permen biasa yang mungkin terbuat dari susu. Ku bungkus lagi dan kuletakkan bersamaan permen lainnya.

            Kegiatan merapihkan kamar pun selesai, bergegaslah aku untuk mandi dan berangkat sekolah. Saat ku berdiri di depan pintu kelas, semua mata tertuju padaku. Anak orang gila, anak stres, ih ada anak orang gila, najis, awas-awas jangan ada yang mau duduk disebelahnya, begitulah teriakan yang langsung terdengar oleh telingaku. Hanya menunduk dan berjalan dengan rasa takut dan malu. Bahkan temanku yang selalu duduk bersamaku, kini enggan sekali rasanya. Pada akhirnya aku terduduk tepat di depan bersebelahan dengan Pak Johar, Guruku. Selama pembelajaran hari itu, kertas, penghapus bekas dan benda kecil lainnya dilempar mengarah kepadaku dan kemudian terdengar samar tawa-tawa kepuasan.

“Brakkkk....” Terdengar bantingan meja yang mengagetkan seisi ruangan.

“Ray, kamu ini kenapa?” Tanya Pak Johar yang sedang berdiri didepan papan tulis.

“Tau tuh, ganggu orang belajar aja.”, “Anak orang gila pak awas digigit.” Celetuk dua temanku yang memuncakkan kekesalaanku.

“Hahahaha..... orang gila, orang gila, orang gila.” Yang kemudian semua teman mentertawaiku dan mengejek ku orang gila.

“Diam!!!!!!!!!!!!!!” Aku berteriak sekeras mungkin dan kemudian mereka semua mematung.

            Kuperhatikan mereka satu per satu, wajah yang meumcat dan menunduk ketakutan. Tanpa sadar air mata melitas di pipi. Kuhela nafas panjang dan melepaskannya perlahan.

“Ingat ya aku bukan orang gila. Aku masih waras. Aku gak mau dibilang gila karena aku bukan orang gila.” Teriakku.

“Terus kalo bukan gila..”

“Diam dulu. Aku belum selesai.” Potong ku ketika ada salah seorang teman yang menyauti ucapanku.

“Tik tok tik tok.”

            Keadaan sangat sunyi, hingga detak jam dinding yang berada di belakang pun terdengar sangat jelas. Kepalan tanganku yang mengeras. Kutengok ke arah Pak Johar, dan dia seakan-akan mengizinkanku berbicara lagi dengan anggukannya. Dan lagi, tangisku semakin menjadi.

“Memang ayah ku gila. Tapi tolonglah berlaku adil kepadaku, jangan anggap aku ini gila juga. Aku terus-terusan sabar ke kalian. Lalu kalian semakin membabi buta menyerangku. Salahku apa? Apa aku pernah menyakiti kalian? Tidak kan ?”

            Seseorang yang merupakan temanku datang menghampiri dan memelukku.

“Maafin aku ya Ray, aku jahat sama kamu.” Ucapnya.

“Haha, dasar orang gila.” Celetuk seseorang yang terdengar dari meja nomor tiga.

“Aku benci kalian !!!” Teriakku.

 Seraya air mata berderai, ku rapihkan buku, menggemblokkan tas ke bahuku dan berlari ke luar kelas. Tanpa peduli aku berjalan pulang sambil menangis kencang.

“sampai kapanpun aku tidak ingin pergi sekolah, aku tidak mau selalu di olok-olok oleh teman-teman”

            Di sisi lain, seisi kelas riuh saling menyalahkan satu sama lain.

“Sudah diam, bagi yang merasa bersalah sepulang sekolah mari kita bersama-sama meminta maaf dan merangkulnya, kasihan loh dia.” Teriak guru yang mencoba menenangkan keadaan.

            Lalu sesampainya aku dirumah, kuhampiri ayah dan memeluknya. Saat aku menceritakan kejadian tadi, ayah terlihat sangat kesal yang tegambar dari raut wajahnya yang mengerutkan dahinya. Nafasnya mulai tidak teratur, wajahnya memerah.

“Ayah jangan nangis, Ray gak kenapa kenapa kok. Ray kan jagoan ayah”

Mungkin ada banyak kata yang ingin dia ucapkan, tetapi dia hanya menangis dan memandangiku. Mungkin juga dia ingin sekali memeluk dan menghapuskan air mataku saat aku menangis tadi, tapi bagaimana bisa dia melakukannya kalau kedua tangannya terikat dengan besi yang sudah mulai berkarat. Hatiku teriris melihatnya, air mata ini mengalir hingga tanpa sadar aku tertidur memeluknya.

Hati dan perasaanku menjadi tenang ketika memeluknya. Meski harumnya sudah tidak se enak dulu, hangat tubuhnya memberikan perasaan gembira dan kenyamanan yang sangat besar.

Perasaan itu perlahan menghilang, samar-samar aku mendengar suara teman-temanku memanggil namaku berkali-kali. Aku terbangun dan badan ayah mulai membiru dan sudah dingin.

“Ayah, Ayah kenapa, bangun yah bangun.” teriakku kencang.

           Di luar rumahku, mereka panik dan memaksa untuk membuka pintu rumahku hingga akhirnya pintu rumahku terbuka. Mereka masuk dan melihatku menangis memeluk ayahku.
“Innalilahi wainnalilahi roji’un, Ayahmu meninggal ray.” ucapnya.

Mendengar ucapan pak Johar jantung ku terasa berhenti berdetak saat itu juga, sekujur tubuhku seketika melemas dan tulang-tulangku terasa tidak sanggup menopang tubuh ini dan aku pingsan.

Ketika aku terbangun seketika rumah sudah dipenuhi orang-orang berpakaian tertutup. Alunan ayat-ayat suci terdengar riuh. Aku hanya terdiam menatapi jasat ayah yang sedang tertidur ditengah-tengah tamu. Tanpa kusadari, aku kembali menangis dan terjatuh tak sadarkan diri.

Setelah cukup lama tak sadarkan diri, aku terbangun dalam keadaan rumah yang sudah sepi. Hanya ada dua orang yang duduk di kursi yang sengaja diletakkan di depan rumah. Kuberjalan ke arah dapur dan menuangkan air kedalam gelas lalu meminumnya. Pada tegukan ke dua, tanganku terasa sangat lemah, semakin lemah dan gelas yang kupegang terjatuh ke lantai.

“Ray, bangun Ray.” tercium bau minyak angin dan mulai terasa panas di hidungku.

“Ray kamu kenapa ?” lagi, terasa ada orang mengusap-usap kepalaku.

            Aku tersadar dan aku tidak mengerti apa yang harus aku ucapkan. Aku hanya bisa terdiam. Betapa tidak, Ayah dan Ibuku  sudah pergi meninggalkanku.aku mencemaskan kehidupanku setelah ini karena di sini aku sebatang kara. Setelah kepergian ayah, aku memutuskan untuk berhenti sekolah.

30 hari sudah terlewati. Aku yang hanya berdian diri, menikmati belas kasihan dari mereka yang iba melihatku. Mereka adalah tetangga-teatanggaku yang secara bergantian memberiku makan pagi dan sore. Akupun bingung mengapa mereka sebaik ini kepadaku sedangkan, aku terbilang orang baru di daerah sini. Sontak aku teringat dengan amplop yang masih kusimpan di atas lemari. Semenjak kepergian Ayah, aku belum menyentuhnya sama sekali.

“Ini bu.” ucapku sambil menyodorkan satu lembar uang dari amplop tadi yang kuambil.

“Eh apa ini, sudah kamu simpan saja” balasnya.

“Aku gak mau makan pemberian ibu kalau ibu tidak menerima pemberianku.” ancamku.

“Yaudah ibu terima, besok kamu mau makan apa ? biar Ibu beli pakai uang ini.” tanya si Ibu.

“Terserah ibu saja hehe.” senyumku.

Setelah dia pergi, aku memakan dan menghabiskan makanan  yang ia bawa. Lalu timbul perasaan ingin mencoba permen yang kusimpan. Bergegaslah aku ke kamar dan mengambil satu bungkus permen. Namun setelah beberapa saat aku seperti berada di pantai yang sangat ramai. Disana aku berlari-lari dan bermain pasir, ku buat bola-bola pasir lalu kulemparkan ke arah laut. Matahari mulai tenggelam dan aku tertidur di pinggir pantai.

Dan lagi, saat ku terbangun keadaan kamar kembali berantakan. Dengan keadaan kepala yang sedikit pusing aku membereskannya kembali. Dalam keadaan sedang memegang amplop, ku ambil 3 lembar uang di dalamnya dan menyimpan sisa uang ke dalam lemari dan beranjak menuju alamat yang tertera.

“Kak, tahu  alamat ini gak ?” tanyaku ke anak tetangga yang sedang berlibur kuliah.

Yang kemudian dia menjelaskan alamat yang tertulis di amplop yang kupegang. Dia mengatakan bahwa dari sini aku harus naik bis jurusan depok-sukabumi dan berhenti di depan pasar Cibinong dan dari situ aku hanya butuh berjalan kaki untuk menuju alamat kakak itu.

Aku berjalan cukup jauh dari rumahku ke jalan raya. Namun, hal buruk menimpaku.

“Haduh, gimana ya. Uang untuk ke Cibinong aku taruh kantong dan uangnya jatuh, aku lupa kalau kantongnya bolong.” ucapku.

Selang beberapa menit, bis yang ingin kutaiki terlihat dari kejauhan. Dengan nekat aku berhentikan dan duduk di depan samping sopir. Saat kenek bis hendak datang menghampiriku, aku berdiri dan berjalan ke tengah-tengah bis. Aku menunduk dan terdiam.

“Selamat sore para penumpang, maaf mengganggu waktunya, di sini saya akan menyanyikan sebuah lagu yang saya buat sendiri, semoga kalian menikmatinya.” begitulah bunyi kalimat yang kulontarkan dengan berteriak.

Ku berdiri terdiam di jalan setapak
Melamuni saat mereka datang dan memelukku
Air mata mengalir dan semakin banyak
Tapi ku harus tersenyum dalam tangis ku

            Dengan bantuan tepukan tangan, tidak terasa air mata ku mengikuti lantunanku. Begitu sulitnya untukku telihat tegar. Dengan tertunduk aku menyodorkan topi yang kupakai kepada mereka.

“Pak nanti turunin aku di pasar Cibinong ya pak, ini ongkosnya.” dan aku menyodorkan uang lima ribu ke bapak kenek tersebut.

“Uangnya dipegang aja dek. Gapapa kok.” balasnya.

“jJngan pak, ini ambil.” paksa ku.

“Sudah dek, ambil saja. Sebentar lagi sampe Cibinong nih.”

“Yaudah deh pak, makasih ya.”

Setelah turun dari bis, aku Bertanya pada kakek tua yang sedang berjalan kaki.  Kebetulan kakek mengenali alamat yang kutanya dan memberikan arahan menuju alamatnya. Tiga puluh menit berjalan, akhirnya aku menemukan alamatnya.

“Tok tok tok.” Ku coba untuk mengetuk pintunya.

Dengan sabar aku menunggu dan sesekali mengetukkan pintu kembali. Setelah beberapa jam menunggu, akhirnya dia datang.

“Eh Ray, ada apa kerumah ?”

“Aku mau nanya kak.” balasku.

“Nanya apa ?”

“Itu permen apa ya ? rasanya enak sih. Tapi agak sedikit pusing setelahnya, dan tanpa sadar aku ngacak-ngacak rumah hehe..”

“Serius ? gimana bisa ? tapi perasaanmu agak tenang kan jadinya ?” tanya nya.

“Iya memang sedikit membuat aku tenang kak. tapi itu apa ? aku mau tau kak”

“Itu tuh, kaka campurin sedikit obat penenang tapi obat penenang yang kakak pake udah masuk dalam jenis narkoba,tapi gapapa lah. Kalo sedikit emang suka gitu. Tapi kalo banyak beda lagi, lebih enak.”

“Masa si ?” tanyaku polos.

“Iya, mau coba ? kebetulan banget nih kakak masih ada sisa.” tawarnya.

            Kemudian, dia mengajakku masuk ke dalam kontrakan. Sekilas terlihat sangat rapi dan bersih. Kakak itu pun terlihat sedang sibuk mencari obat yang ingin diberikan padaku. Kulihat dia membawa benda seperti kertas berukuran sebesar prangko.

“Nah, ini. Kamu coba deh sekarang.” 

“Kok kaya kertas gitu si kak, caranya gimana ?”

“Tempelin aja ke lidah nanti juga ilang sendiri” balasnya.

            Ku tempelkan di jari telunjuk, kuperhatikan tidak ada yang aneh dengan potongan kecil berbentuk persegi yang berwarna hijau ini. Kudekatkan ke mulutku dan kuletakkan di lidah. Dalam hitungan detik benda itu telah hilang. Tidak ada apapun yang kurasakan pada awalnya namun, lama kelamaan tubuhku terasa sangat ringan dan seluruh isi kepala seakan keluar satu per satu yang menenangkan fikiran. Di kursi yang dipenuhi bulu Kucing aku tergeletak dan menikmati reaksinya.

            Terdengar suara ayam berkokok, aku terbangun dan melihat kak Bily masih tertidur pulas disebelahku. Beberapa kali aku membangunkannya tapi dia tidak juga membuka matanya. Aku berjalan ke dapur dan menuangkan air ke dalam gelas yang sebelumnya ku ambil. Setelah itu aku kembali, kulihat pulpen dan selembar kertas yang sudah lecek.
“kak, aku buru-buru, kakak aku bangunin gak bangun-bangun. Makasih ya, nanti aku datang lagi”

Tulisku dan kuselipkan kertas ke kepalan tangan kak Billy dan aku beranjak pergi. Setelah itu, di sinilah awal mula persahabatanku dengan narkoba. dan hingga sekarang aku masih menggunakannya.

Dengan tangan yang menopang kepalaku di atas meja warteg Ibu Nani.

“Woy ngelamunin apaan lu ?” teriak bu Nani si pemilik warung.

“Eh.. enggak bu ga ngelamunin apa-apa. Capek aja aku bu seharian konser.” balasku.

“Ye konser, kaya yang bagus aja suara lu tong.” celetuknya.

“Kalo aku nyanyi, warung ini bisa rame loh bu. Percaya gak ?” aku menantangnya.

“Ah ga percaya gua, mana mungkin. Gua kasih gratis dah kalo bisa rame.” balasnya.

“Ok” jawabku menerima tantangannya.

            Kemudian aku berdiri di atas bangku warung Bu Nani dan bernyanyi. Aku menepukkan tanganku dan seketika ada banyak orang dihadapanku. Aku bernyanyi, dan mereka semua menikmati petikan gitar dan suaraku. Perasaanku sangat senang karena banyak yang menyaksikanku. Tapi kemudian..

“Woy, makan tuh nasi lu, dilalerin entar” Teriak Bu Nani.

“Ah Ibu ganggu aja si. Orang lagi asik juga” balasku.

“Lah kenapa lu, haha gak jelas banget tau-tau ngomel”

“Hehe. Gak kenapa kenapa bu” jawabku sambil menghabiskan nasi di piringku.

            Setelah kuhabiskan makananku dan membayarnya, aku pergi. Aku berjalan pulang sambil melihah kendaraan berlalu lalang yang menerbangkan butiran debu di jalan dan menempel di kulit wajah ku yang semakin kusam. Sesekali kuperiksa uang di kantong celanaku.

“Kak ada barangnya gak sekarang ? udah lama nih gak make.” tanyaku.

“Baru dapet nih, mana sini duitnya.”

“Nih kak.” balasku sambil menyodorkan beberapa lembar uang pecahan dua puluh ribu.

“Yaudah oke. Kalo mau lagi dateng aja ke rumah ya. Tapi jangan siang-siang, malem aja soalnya kakak kerja.”

“Oke kak.”

            Kukantongi barang yang kubeli dan kembali pulang. Di jalan tiba-tiba saja aku dikagetkan oleh dua orang Polisi yang memanggilku dari sebrang jalan.
“Hey, kemari kamu.” teriaknya.

            Karena panik, aku berlari secepat mungkin dan menjauh dari dari mereka. Setelah terasa cukup aman aku berhenti dan beristirahat di bawah pohon pinggir jalan.

“Itu dia anaknya.” terdengar suara orang berteriak.

            Kutengok dan ternyata mereka masih mengejarku. Belum sempat berlari, mereka sudah meraih tanganku dan aku tidak dapat berbuat apa-apa.

“Kamu kenapa lari ?”

“Aku takut pak.”

“Takut apa ? kita ini tidak berniat jahat kok sama kamu.”

“Tolong pak jangan tangkap saya.” balasku memelas.

“Haha...” mereka tertawa keras.

“Loh kenapa ketawa pak ?”

“Sebenernya kita mau kasih adek uang, pas di panggil kamu malah lari ngibrit”

“Oh, hehe.. maaf pak, saking takutnya aku jadi lari deh.”

“Loh takut apa ? emangnya kamu mencuri ? atau menggunakan narkoba ?” tanyanya.

“Enggak sih pak.” balasku gugup.

“Semoga aja dia gak meriksa meriksa celana aku, soalnya bahaya kalo sampai diperiksa” ucapku dalam hati.

“Yaudah, nih bapak kasih sedikit uang buat kamu makan, inget buat makan ya jangan dipake buat yang lain.” ucapnya.

“Wah banyak banget pak, makasih ya.” balasku sambil mencium tangan mereka satu per satu. Mereka pergi dan aku menarik nafasku dalam dan mengeluarkannya.

“Ternyata mereka cuma mau kasih uang saja, lumayan deh.” terusku berjalan pulang.

            Sesampainya di rumah, aku langsung membersihkan tubuhku yang bau dan kotor. Kusiram air dari kepala ku tapi, air yang mengalir terasa tidak menginginkanku. Sejenak kuberhenti dan memikirkan diriku. Betapa bodohnya aku telah bersahabat dengan barang terlarang itu. Kumerenung dan mulai menyesali perbuatanku selama ini.

            Setelah itu, aku kembali ke kamar. Kulihat wajahku yang terpantul di cermin yang tertempel di dinding kamarku yang cat nya mulai mengelupas. Kudekatkan, semakin kudekatkan dan kutatap wajahku cukup lama. Terlihat kulit yang kusam, kantung mata terlihat jelas, pipi yang sangat tirus dan mata yang memerah. Kusisir rambutku kebelakang, kuperhatikan lagi wajahku. Terlihat seperti orang bodoh yang dipenuhi dengan penyakit. Manusia dalam cermin itu tidak layak untuk hidup, tidak sharusnya dia berada di dunia ini.

            Sebelum tidur, kujauhkan barang yang kubawa dengan membuangnya ke tempat sampah di depan rumahku. Kutidurkan tubuhku ke kasur yang mulai rusak dan memejamkan mata. Dalam keadaan mata tertutup, fikiranku masih melayang kemana-mana. Hingga pada akhirnya pada pukul 4 subuh aku terlelap.

            Di pagi hari, aku merasa pusing dan hatiku kacau balau. Tiba-tiba saja aku teringat ketika pagi hari Ibu membangunkanku dan Ayah memarahinya karena membangunkanku. Teringat jelas ucapannya.

“Ray, ayo bangun udah pagi nih.”
“Sebentar lagi bu, masih ngantuk nih.” rengekku
“Sudah bu biarin aja, lagipula kan sekarang hari minggu, sekolah libur juga kan.” tegasnya dan terasa usapan tangannya di kepalaku. Terasa lembut dan melelapkan dan sekarang aku hanya bisa menangisinya di sini.

          Kugantungkan baju dan celana yang kemarik kupakai. Ketika merapihkannya, sisa uang pemberian Polisi kemarin terjatuh. Kuambil dan kubawa uang itu ke pasar dan membelikan bunga. Setelah membeli bunga, aku berjalan ke makan Ayah dan Ibu. Aku duduk diantara mereka. kupanjatkan doa untuk mereka dan ketika doa itu terucap dari bibirku, aku merasa ada dua orang yang merangkulku. Sedikit berat tapi terasa sangat nyaman. Seperti pelukan yang pernah mereka berikan padaku ketika ada.

        Seusai berdoa, kubersihkan makam mereka dari rumput-rumput yang menutupinya. Kutancapkan batang pohon kamboja yang kuambil saat berjalan tadi. kutaburkan bunga ke makan ayah dan ibuku.

            Ke esokan harinya,

            Menatap barang yang kemarin kutukar dengan uang. Ingin sekali rasanya untuk membuang, tapi hatiku selalu berkata “Jangan.”. Dengan penuh menyesal, kuletakkan di atas lidah dan membiarkannya menyatu dengan ludah. Detik demi detik ia mulai mengecil dan tibat-tiba aku tersadar dan melepehkannya ke lantai.

Namun selang beberapa jam, aku mulai tidak terkendali dan meracau. Terlihat samar barang yang ku lepehkan tadi tergeletak di lantai. Kujilat dan kulumat habis hingga butiran-butiran debu yang terasa agak keras ikut masuk kedalamnya. Sejak itu, aku tidak mengingat apa-apa lagi.

Saat itu keadaanku sedang telentang, samar-samar aku merasakan tubuhku. Tetapi tangan dan kakiku tidak dapat digerakkan. Mulut dan mataku seakan terkunci rapat. Yang kudengar hanyalah tiupan angin dan bunyi suara-suara serangga yang menghuni rumah yang mulai tidak terurus ini. Kucoba berteriak, tetapi tetap tidak bisa.

Aku menangis, dan aku merasakan tetesan hangat yang mengalir dan berhenti di telingaku. Aku memohon kepada tuhan agar dapat mengembalikan keadaan seperti semula, namun seperti tidak ada hasilnya. Seluruh tubuhku tetap tidak dapat digerakkan. Hingga pada akhirnya, aku mendengar suara ditelingaku.
“Ray, kamu akan mati !” ucapnya.
“Tunggu sampai besok, kau akan kukeluarkan dari ragamu yang dialiri dengan darah haram itu.” lanjutnya.

            Air mataku mengalir semakin banyak. Ketakutanku akan kematian membuatku semakin berusaha untuk menggerakkan tubuhku. Akan tetapi, semakin digerakkan terasa semakin beratdan semakin berat saja. Sebisa mungkin kucoba untuk menenangkan diri dan berharap bisa kembali menggerakan seluruh tubuhku. Perlahan ku coba kembali, namun masih sama saja seperti sebelumnya.

“Apa yang kamu lakukan itu percuma ray, sekarnag sudah ba’da isya, waktuku untung mengeluarkanmu hanya beberapa jam lagi.” bisiknya.

            Aku semakin merasa ketakutan. Keringat dingin yang mengucur bercampur dengan air mata. Perlahak kubuka mata, dan kedua mataku dapat dengan mudahnya terbuka. Kugerakkan tangan dan kaki dan semuanya bisa kulakukan tanpa mengeluarkan tenaga yang besar. Aku berjalan ke arah depan rumah dengan senyuman yang menghiasi wajahku.

“Mana yang bilang kalau aku akan mati ? ngomong sini di depan aku.” tantangku berteriak.
“berani-beraninya nakut nakutin aku” terusku.

            Tidak lama aku berbicara, tiba-tiba muncul seorang dengan jubah hitam dan menunduk. Aku kaget bukan main melihatnya yang tiba-tiba muncul.

“Yakin kamu belum mati ?”

“Ka..kamu siapa ?” tanyaku.

“Lihatlah betapa bodohnya dirimu, apa ada yang bisa melihatmu ?”

“Ini sudah larut malam, mana mungkin ada orang lewat di sini.”

“Cobalah kau kembali ke tempat tadi kau terbangun.” perintahnya.

“Lalu lihatlah apayang sebenarnya terjadi.” lanjutnya.

“Untuk apa aku kesana.” balasku.

“Cepatlah sana, baru kau akan tahu mengapa aku memerintahkanmu kesana.”

           Dengan berat aku melangkahkan kakiku kembali ke tempat aku tertidur. Rasa penasaran dan keragu-raguanpun muncul, kuhentikan langkahku dan bertanya pada orang tersebut.
“Kamu ini siapa ?” tanyaku.

            Lama kumenunggu jawabannya, dan dia tidak menjawab pertanyaanku itu. Ssaat ku nengok ke arahnya, ternyata dia sudah hilang. Dengan cepat aku berlari ke tempatku tertidur sebelumnya. Setelah sampai, aku tidak melihat apa-apa. Keadaan rumah terlihat normal dan sepi seperti biasanya.

“Hey orang aneh, pergi kemana kau ? apa maksudmu mempermainkanku ?” teriakku.

“Aku tidak mempermainkanmu.” dia muncul dan berbicara tepat dibelakangku.

“Lalu apa maksud semua ini ?” aku membalikkan arah dan dia sudah tidak terlihat lagi.

“Apa kamu benar-benar tidak melihat apapun ditempatmu tertidur tadi ?” balasnya.

“Dimaana kamu, tunjukkan dirimu dan apa maksudmu atas semua ini ?”

“Aw.. siapa kau.” tiba-tiba terasa seperti ada yang mencekikku dari belakang.

            Jari yang terasa dileherku sangat menakitkan. Kedua tanganku terikat  kebelakang dengan sendirinya. Tubuhku terasa didorong mendekati tempatku tadi. Didekatkannya kepalaku ke lantai.

“Perhatikan ada apa disitu.” bisiknya.

“Iya.” aku menganggukkan kepalaku.

“Apa yang kau lihat disitu ?”

            Setelah kuperhatikan, hanya ada garis kapur yang terlihat samar dengan lantai kamarku.

“Hanya garis kapur ?” tanyaku.

“Coba kau perhatikan kemana garis itu tertuju dan apa bentuk yang terpola disana.”

            Kuikuti garisnya yang berkelok dan kemana dia pergi.

“Apa ini maksudnya ?”

“Garis itu membentuk lekuk tubuhmu ketika kau pingsan tadi.” balasnya.

“Lalu ?” tanyaku.

“Polisi telah menemukan jenazahmu dan kau ini sudah mati.”

            Terasa sangat lemas mendengar kata-kata dari orang itu. Seakan-akan hidupku akan berakhir saat ini juga. Hidupku sudah berakhir karena aku sudah mati. Aku mencari tubuhku dan mendekatkannya. Terkihat bibir yang membiru dan seluruh tubuhku pucat kebiruan. Aku terdiam disamping tubuhku. Ku coba menidurkan diriku diatas tubuhku yang membeku, tapi semua itu percuma.

            Terdengar suara hentakan kaki yang mendekati ruangan dimana tubuhku berada. Terlihat seseorang yang mengenakan jas putih membuka pintu dan masuk. Dia membawa tubuhku keluar dan aku mengikutinya. Dia berhenti di satu ruangan dan membuka kunci pintu. Setelah masuk, aku terdiam didepan pintu karena membaca ada tulisan ”Ruang Autopsi” di atas pintu.
“Apa yang akan mereka lakukan pada tubuhku ?” tanyaku dalam hati.

            Penuh rasa penasaran aku memasuki ruangan tersebut. Sesampainya aku, terlihat Dokter itu berbicara dengan asistennya.
“Mati kenapa ni orang ?” tanya asistennya yang sedang berdiri disamping meja yang berisi pisau dab gergaji mesin.
“Gak tahu, katanya si ngobat, kita disuruh autopsi ni mayat.” balas orang yang membawa tubuhku.
 “Apa itu autopsi ?”  hatiku bertanya-tanya.
“Ron, persiapkan gergajinya. Kita buka dulu kepalanya, setelah itu baru daerah perutnya kita buka.” teriak salah satu dokter.
“Siap pak, ini gergajinya.” balasnya.

            Terlihat dia menarik-narik tali di gergaji yang dipegangnya. Lalu, gergaji itu berteriak sangat kencang. Diarahkannya perlahan ke kepalaku. Ketika gergaji hendak menyentuh keningku, tiba-tiba saja mesin gergaji terhenti.

“Loh kok mati.” gerutu si dokter.
“Ron, ini gimana gergaji mesinnya mati.” lanjutnya.
“Kok bisa mati pak ?”
“Ye mana saya tahu, coba ambilkan cadangannya di gudang.” balasnya.

            Aku terpaku melihat tubuhku itu yang akan dibongkar satu per satu. Kucoba menahannya dan menghentikannya namun, seakan dia tidak memperdulikanku. Terdengar suara orang berlari dari luar ruangan. Dan dia datang membawa gergaji mesinnya.

“Nih pak gergajinya” ucapnya dengan ngos-ngosan.
“Ngapain lari-lari si, kita kan gak buru-buru juga. Santai aja.” balas si dokter kepada asistennya.

             Lalu, dokter itu menyalakan gergajinya kembali dan membongkar kepala, mengambil otakku dan memeriksanya. Setelah itu dia mengasah pisau yang cukup besar dan mengiris bagian terluar kulit perutku, membelek perut dan memotong-motong organ-organ tubuhku. Setelah dipotong mereka memasukkannya dengan asal dan menjahit perutku yang terbuka lebar hingga rapat. Aku hanya terdiam ketika dokter itu membelah kepalaku dengan paksa dan membelek perutku lalu memotong-motong organ tubuhku. Mereka pergi dan menggeletakkan tubuhku begitu saja.

            Tidak ada lagi penysalan yang harus kusesali. Semua telah berakhir dan aku harus pergi karena aku sudah tidak ada hak untuk menempati tubuh itu lagi. Dan kupejamkan mataku beberapa saat dan mencoba untuk ikhlas menerimanya.

            Tapi tiba-tiba saja datang sesosok wanita yang kurindukan, Ibu. Mungkin dia datang untuk menjemputku. Ditariknya tanganku dan tidak tahu mengapa dia melemparku. Ibu menghampiriku yang tergeletak lemas dan memandangku dengan wajah sedih, tapi sekejam wajahnya menjadi seram dan terlihat marah. Kulihat tangan kanan yang mengarah ke atas seperti ingin menamparku.

“plakkkkk” terasa sakit dan ketika kubuka mataku, aku berada di rumahku dan ternyata aku hanya bermimpi.

-end-
lanjutin atau gak usah? comment bellow

Tidak ada komentar:

Posting Komentar