Rabu, 19 Juli 2017

Tanaman Sagu Sebagai Strategi Masyarakat dalam Restorasi Gambut








Lahan gambut adalah bentang lahan yang tersusun oleh tanah hasil dari pembusukan yang tidak sempurna. Pembusukan ini berasal dari semua jenis pepohonan yang tergenang air. Bahan-Bahan organik  ini terus menumpuk dalam waktu lama sehingga membentuk lapisan-lapisan dengan ketebalan lebih dari 50 cm dan banyak dijumpai di daerah-daerah jenuh air seperti rawa, cekungan, atau daerah pantai. Diantara beberapa lahan gambut di Indonesia telah dijadikan habitat bagi hewan-hewan langka.

Kedalaman tanah di lahan gambut bisa mencapai 10 meter. Dari dasar tanah di lahan gambut hingga permukaan, seluruhnya terdapat senyawa karbon. Dikarenakan hutan gambut dapat menyimpan karbon dalam jumlah yang besar.
Pada kondisi alami, lahan gambut tidak mudah terbakar karena sifatnya yang menyerupai spons, yaitu menyerap dan menahan air secara maksimal sehingga pada musim hujan dan musim kemarau tidak ada perbedaan kondisi yang ekstrim. Namun, apabila kondisi lahan gambut tersebut sudah mulai terganggu dengan adanya konversi lahan atau pembuatan kanal, maka keseimbangan ekologisnya akan terganggu dan lemungkinan besar lahan gambut akan mudah terbakar.
Pada musim kemarau, lahan gambut sangat mudah terbakar hingga pada kedalaman tertentu lahan gambut akan sangat kering. Sisa-sisa tumbuhan di dasar akan menjadi bahan bakar yang dapat memicu kebakaran. Biasanya kebakaran ini sangat sulit dideteksi karena titik awal api dimulai dari bagian terbawah tanah gambut yang kemudian menjalar ke permukaan dan akan sulit untuk memadamkannya. Untuk memadamkan kebakaran pada lahan gambut, biasanya akan memakan waktu berbulan-bulan atau harus menunggu sampai turun hujan dengan intensitas yang sangat tinggi.
Menariknya lagi, ada temuan baru yang dapat menyebabkan kerusakan tanah gambut yaitu, tanaman kelapa sawit. Dari penelitian yang dilakukan, ditemukan jika terdapat lahan kelapa sawit yang dibangun di lahan gambut sehingga tidak hanya mengurangi lahan gambut namun juga menambah emisi dari gas rumah kaca yang menyebabkan pemanasan global. Penggunaan lahan gambut yang terus menerus, tidak hanya merusak tanah namun juga mengancam ekosistem dan juga bencana ekologis.Pada akhir tahun 2015, terjadi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang pada saat itu, 120 ribu orang terkena penyakit pernapasan, akses pendidikan dan transportasi terganggu, keanekaragaman hayati punah, emisi gas rumah kaca meningkat, dan kerugian finansial mencapai 220 triliun rupiah. tercatat lebih dari separuh luas area yang terbakar adalah lahan gambut. Secara teoretis, gambut berperan penting dalam menyerap 75% karbon di dunia sehingga tidak boleh dibakar, dikeringkan, atau dijadikan lahan perkebunan. Ekosistem gambut juga merupakan sumber penghidupan bagi masyarakat lokal. Emisi gas rumah kaca dari karhutla berdampak pada perubahan iklim yang dapat menghambat pembangunan, memperparah kemiskinan, serta menyebabkan berbagai masalah kesehatan dan keamanan. Salah satu hal yang bisa kita lakukan adalah dengan menjaga dan merestorasi lahan gambut.
restorasi gambut adalah proses panjang untuk mengembalikan fungsi ekologi lahan gambut; sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat yang terkena dampak dari menyusutnya lahan gambut. Salah satu upaya untuk merestorasi lahan-lahan gambut yang sudah rusak adalah dengan menanam kembali atau revegetasi yang sebelum penanaman dilakukan pemetaan dan proses pembasahan lahan jika gambut dalam keadaan kering. Salah satunya tanaman yang dapat membantu perestorasian gambut adalah tanaman sagu, karena tanaman ini dapat tumbuh dengan baik pada habitat yang tergenang air, maupun pada lahan kering sehingga akan cocok ditanam pada lahan gambut.  Selain itu, masyarakat lokal pun bisa mendapatkan manfaat dari upaya restorasi ini. batang dari tanaman sagu memiliki produktivitas yang tinggi dalam menghasilkan pati sagu dan dapat menghasilkan biomassa setelah tutupan kanopi terbentuk. sehingga Dengan menanam tanaman sagu pada lahan gambut, dapat dilakukan karena dapat membantu perestorasian lahan gambut dan memiliki nilai ekonomis bagi masyarakat lokal.
Punya cerita atau opini tentang gambut? Ayo tuangkan dalam tulisan dan share di media sosialmu bersama pantau gambut menggunakan hashtag #pantaugambut





3 komentar: