Senin, 09 Mei 2016

Surat Untuk mu





cerita ini berawal dari pertemuan Rio dan Riri. Mereka bertemu saat Riri mengunjungi kantor Rio bekerja. saat itu Riri sedang berkunjung untuk keperluan tugasnya di kampus. Saat berkeliling, Riri melihat seorang laki-laki keluar dari kamar mandi dan menghampiri orang tersebut.
“selamat siang pak, boleh bertanya-tanya sebentar soal pekerjaan bapak gak ?”
“oh, nanti ya. kalu tunggu pada jam makan siang”
“kalau begitu boleh saya minta nomor hp bapak ?”
“oh ini” sambil menuliskan nomer handphone nya.
saat jam makan siang datang, Riri langsung menelepon pegawai tadi.
“pak dimana ? saya di kantin”
” oh iya saya kesana ya. tunggu sebentar”
setelah itu mereka makan siang bersama dan Riri menanyakan pertanyaan seputar pekerjaan pegawai tersebut. Tidak terasa jam makan siang kantor sudah habis. lalu Riri dan pegawai tersebut berpisah. oh iya, Riri lupa menanyakan nama pegawai tadi.
ketika Riri pulang ke rumah, dia langsung menghempaskan tubuhnya dan tertidur pulas. Pada pagi harinya tiba-tiba saja dia teringat dengan pegawai yang kemarin sempat mengobrol dengannya kemarin. lalu Riri terbengong dan bertanya-tanya “namanya siapa ya ? rumahnya dimana ? dan kenapa kemarin aku tidak sempat menanyakan hal itu kepadanya ? hmm yasudahlah lupakan saja” ocehan Ririsambil memikirkan pegawai itu. Setelah lama terduduk di kasurnya, Riri bersiap-siap untuk melanjutkan tugas kunjungannya yang kebetulan ini adalah hari terakhirnya melakukan kunjungan dan tersisa 7 hari lagi waktunya di Jakarta untuk berlibur. Riri tersenyum sendiri saat melihat bayangan dirinya di depan cermin kamarnya, “kalau dilihat-lihat, aku itu cantik ya, haha”
*sudut pandang Riri*
hari ini terasa sangat lama bagiku, setiap memperhatikan jam, detik nya terasa tidak bergerak, ingin rasanya aku percepat waktunya. tapi, bagaimana caranya ?
*kembali ke sudut pandang pencerita*
akhirnya waktu yang ditunggu-tunggu Riri datang juga, yups, waktu kunjungannya selesai. Riri langsung bergegas pulang ke rumahnya, saking gak ada kerjaannya, di jalan dia ngotak atik ish handphone nya dan saat melihat daftar panggilan keluar, ada satu nomor tidak dikenal yang dia panggil. Riri merfikir sejenak “ini nomor siapa ya ? oh iya, inikan nomer pegawai yang aku wawancarai kemarin di kantor”
sesampainya di rumah Riri langsung menelepon nomor teresebut, dan ternyata benar, nomor telepon tadi adalah nomor telepon pegawai tadi. Setelah mengobrol panjang lebar Riri mengajak pegawai tersebut untuk menjadi sahabatnya dan menemani sisa liburannya di Jakarta walau hanya menggunakan alat komunikasi. Dia harus menghubungi Riri selama tujuh hari kedepan dan membuat tujuh surat yang berisikan kesan selama bersahabat dalam tujuh hari kedepan.
Senangnya, dan akhirnya aku tahu namanya, ya dia bernama Rio” ucap elena setelah menutup telepon dari Rio.
hari pertama
di hari pertama komunikasi antara mereka berdua sangat baik. tetapi di jam kerjanya Rio tidak membalas pesan-pesan yang dikirim oleh Riri. Malam sebelum tidur, elena mengirim pesan singkat yang berisikan “jangan lupa, buat suratnya” dan Riri membuat surat untuknya, lalu tertidur.
hari kedua
“yah pulsa habis lagi, males banget mau beli keluar, panas banget. tapi mau gak mau ya harus beli, kalau nggak, ga bisa ngabarin mas Rio dong”
satu jam setelah Riri membeli pulsa “aduh, bagaimana ini ? pulsanya belum masuk juga”. di sisi lain, Rio terus-terusan mengirimi pesan tetapi Riri tidak membalasnya. di pesan terakhirnya dia menuliskan “ri, kamu kenapa ? oh iya, jangan lupa ya tulis suratnya”.
Hari ketiga.
di pagi hari saat Riri terbangun dari tidurnya, pulsa yang dibelinya kemarin masih belum masuk. karena kesal, dia kembali ke tempat kemarin dia membeli pulsa.
“kenapa pulsa saya belum masuk juga mas ?” tanya Riri.
“maaf ya mbak, kemarin sedang ada gangguan pada sistem pengisian pulsa, jadi transaksinya gagal, sekali lagi maaf ya mbak”
“gimana sih kamu, harusnya bilang dari kemarin pas saya mau beli. kan bisa beli di tempat lain”
“ya mana saya ngerti. orang kemarin itu mbak pelanggan pertama saya. orang abis itu saya langsung tutup, jadi ya gimana atuh mbak, maaf ya mbak, nih saya kirim ulang”
“oh gitu. oke, saya maafin, cepet ya pulsanya”
setelah pulsa masuk, Riri langsung bergegas untuk memberi kabar kepada Rio. Di malam harinya Rio menelefonnya. mereka ngobrol panjang lebar, bercerita tentang hal-hal anehnya sambil tertawa terbahak-bahak. Dan Riri tertidur saat asyik mendengarkan cerita dari Rio “……..”
hari ke-empat
hari ini di antara mereka berdua tidakada yang memberikan kabarnya. Seharian Riri meunggu kabar dari Rio dan sebaliknya. Tidak lama, handphone Riri berdering, “wah ada pesan masuk” pas di cek, ternyata pesan dari operator. “ishh, operator nyebelin, ngirim pesan gak jelas, sekali-kali gitu kirim pulsa gratis”
Tiba-tiba Riri tertidur sambil menggenggam handphone nya.
“kriiiing-kriiing”
Riri terkaget mendengarkan deringan handphone nya. saat di lihat, pesannya dari rio. yang berisikan “maaf ya, aku sibuk. jadi tidak sempat untuk mengabarimu, jangan lupa ya suratnya, selamat tidur”
hari ke-lima
hari ini komunikasi antara mereka terasa sangat datar dan begitu saja tanpa kesan apapun.
hari ke-enam
“hai Rio, hari ini aku mau jalan-jalan dulu ya, soalnya besok kan hari terakhirku di Jakarta, oh iya jangan lupa besok sore kita ketemu ya di taman dekat rumah aku dan bawa juga surat-suratnya”
“wiiih jalan-jalan gak ngajak-ngajak, yaudah hati-hati ya. sampai berjumpa besok”
hari ke-tujuh
“hai Rio” ucap elena.
“hai, apa kabar ?”
“aku baik, lama nunggu ya ? maaf ya, gimana kabarmu ?”
“alhamdulillah baik, hehe”
tiba tiba Riri ditelepon oleh pihak bandara dan mendapat kabar bahwa sepuluh menit lagi pesawat yang akan ditumpanginya akan berangkat.
“Rio maaf aku harus pergi sekarang, ini suratku, mana suratmu ?
setelah bertukar surat, Riri  memeluk Rio dan pergi.
ketika berada di pesawat, Riri membuka suratnya sati per satu.
isi surat pertama “hmm… senangnya bisa kenal dengan wanita yang cantik, baik dan pintar. semoga jodohku seperti kamu ya”
isi surat kedua “kamu kenapa ? apakah ada yang salah denganku sehingga kamu diam seperti itu ?”
isi surat ketiga “hehe akhirnya bisa ngobrol-ngobrol denganmu, kamu asyik juga ya orangnya, ya.. walaupun pas  teleponan di tinggal tidur”
isi surat keempat “hehehe aku sibuk banget hari ini. sampai-sampai gak kasih kabar ke kamu”
isi surat kelima “cie yang gak ada kabar”
isi sura ke enam “gimana, seneng gak jalan-jalannya ? pasti seru deh. kok gak ngajak aku ya ? haha”
di surat ketujuh ada surat yang berisikan “kamu bisa kan bulan depamn kesini lagi ?” dan terdapat surat undangan. ya dia akan menikah.
betapa hancurnya hati Riri setelah melihat keseluruhan surat dari Rio. Dia menangis dan membuang surat-suratnya.
di sisi lain, rio sedang duduk di tempat tadi mereka bertemu sambil membaca surat dari Riri.
“seneng banget deh bisa berkomunikasi lagi sama kamu. aku fikir gak bakal bisa hubungin kamu lagi hhe”
isi surat kedua “maaf ya aku gak ngasih kabar, tuh gara-gara tukang pulsa, aku beli pulsa tapi gak masuk-masuk, jadi aku gak punya pulsa buat ngabarin kamu”
isi surat ketiga “tadi aku bete sama tukang pulsa. baru masuk hari ini pulsanya, dan baru bisa kabarin kamu juga nih”
isi surat keempat “kok gak ada kabar ?????”
isi surat kelima “:'( datar banget ya”
isi surat keenam “seneng bisa jalan-jalan, ya walaupun gak sama kamu hahaha  coba bisa ajak kamu..”
isi surat ketujuh “Rio.. sebenarnya aku itu cinta sama kamu”
setelah membaca surat terakhir dari Riri, rio sangat merasa bersalah, dan…..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar